Beranda/ Artikel/ Selasar Budaya/ Grup WhatsApp Alumni: Epi...

Grup WhatsApp Alumni: Epidemi Nostalgia

Grup WhatsApp Alumni adalah sebuah “mesin waktu digital” yang awalnya penuh dengan nostalgia, kemudian berubah menjadi arena pertarungan nasib. Tulisan ini merupakan bagian dari seri artikel sosiologis bertajuk "Anatomi Grup WhatsApp" yang membedah realitas sosio-kultural di dalam ruang obrolan digital kita sehari-hari.

Najamuddin Khairur Rijal
06 Agustus 2026 5 menit baca
0

Di antara belasan atau puluhan grup WhatsApp yang menghuni memori ponsel Anda, ada satu kategori grup yang awal kelahirannya diwarnai dengan ledakan euforia. Kita sebut saja Grup WhatsApp Alumni. Entah itu alumni SD, SMP, SMA, hingga kawan seangkatan di kampus, siklus hidup grup ini selalu dimulai dengan narasi romantisisme masa lalu yang kental.

Awalnya, grup ini diinisiasi oleh satu atau dua orang “motor penggerak” (yang entah bagaimana selalu memiliki nomor kontak hampir semua orang). Pada minggu-minggu pertama setelah grup dibentuk, lini masa akan kebanjiran ratusan hingga ribuan pesan setiap harinya.

Atmosfernya murni, polos, dan penuh tawa. Foto-foto usang zaman sekolah dengan seragam kebesaran, gaya rambut belah tengah yang memalukan, hingga wajah berjerawat diunggah kembali.

Kisah-kisah masa lalu dibongkar. Siapa yang dulu pernah menembak siapa namun ditolak. Siapa yang paling sering dihukum guru karena bolos ke kantin. Hingga siapa yang sering menyontek saat ujian matematika. Di fase ini, semua sekat sosial runtuh. Sang direktur perusahaan dan sang pegawai honorer bisa tertawa lepas bersama karena di dalam grup itu, mereka kembali direduksi menjadi anak berusia belasan tahun yang sama-sama takut pada guru/dosen galak.

Kerinduan Masa Lalu

Untuk memahami mengapa fase ini begitu menarik, karya Svetlana Boym berjudul The Future of Nostalgia perlu dibaca. Boym menyebut bahwa manusia modern sedang dijangkiti oleh epidemi nostalgia. Nostalgia bukanlah sekadar kerinduan pada masa lalu, melainkan sebuah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) terhadap masa kini yang melesat terlalu cepat dan penuh dengan ketidakpastian.

Grup WhatsApp Alumni, pada hakikatnya, adalah sebuah “mesin waktu digital”. Ketika kita menatap layar ponsel dan mengenang masa SMA, kita sesungguhnya sedang melarikan diri sejenak dari tagihan cicilan rumah, dari tekanan bos di kantor, dari kolesterol yang mulai merangkak naik, dan dari kenyataan bahwa kita mulai menua.

Masa lalu, betapapun sulitnya saat itu, kini terasa aman karena sudah selesai kita lewati. Di dalam grup alumni, kita merayakan versi diri kita yang paling ideal, yakni versi yang masih memiliki harapan tak terbatas dan belum dihancurkan oleh realitas kehidupan orang dewasa.

Namun, mesin waktu ini ternyata memiliki bahan bakar yang terbatas. Setelah sebulan atau dua bulan, atau setahun beroperasi, stok memori masa lalu habis dieksploitasi. Tidak ada lagi kenangan lucu yang tersisa untuk diceritakan. Dan pada titik nadir itulah, percakapan mau tidak mau harus bergeser dari masa lalu (kemarin) ke masa kini (sekarang).

Pertanyaan maut pun perlahan bermunculan. Sekarang sibuk apa, bro?; Anak sudah berapa?; Tinggal di mana sekarang?; dan seterusnya.

Saat pertanyaan-pertanyaan ini mulai mendominasi, grup alumni mengalami transformasi struktural. Bukan lagi mesin waktu yang hangat, melainkan berubah menjadi apa yang disebut oleh sosiolog Pierre Bourdieu sebagai sebuah arena (field).

Menurut Bourdieu, kehidupan sosial manusia terbagi ke dalam berbagai arena (seperti arena pekerjaan, pendidikan, atau ekonomi) di mana individu-individu di dalamnya saling bertarung untuk memperebutkan kedudukan dan dominasi. Senjata yang digunakan dalam pertarungan ini adalah modal (capital), yang terdiri dari modal ekonomi (harta, pendapatan), modal sosial (jejaring, koneksi), dan modal kultural (gelar akademik, gaya hidup).

Grup WhatsApp Alumni perlahan bermutasi menjadi etalase pameran modal-modal tersebut, sering kali dalam bentuk flexing (pamer) yang sangat halus dan tersembunyi. Misalnya, seorang kawan mengirimkan foto pemandangan padang rumput yang indah dengan keterangan, “Alhamdulillah, sekalian sepedaan pagi sisa-sisa sisa tenaga kemarin.” Namun, jika diperhatikan lebih teliti, di sudut foto itu tampak separuh frame sepeda lipat impor seharga puluhan juta.

Kawan yang lain membagikan artikel berita ekonomi, diiringi komentar santai, “Wah, padahal baru minggu lalu ngopi bareng Pak Menteri bahas regulasi ini.” Atau seorang ibu yang membagikan tautan pendaftaran sekolah elit dengan tambahan keluhan, “Aduh pusing urus sekolah anak sulung, SPP mahal banget.”

Dalam kacamata Bourdieu, tindakan-tindakan ini bukanlah sekadar berbagi informasi, melainkan upaya bawah sadar untuk menegaskan distingsi (pembedaan kelas) dan memvalidasi kesuksesan hidup mereka di mata kawan-kawan masa lalunya. Bagi sebagian orang, tidak ada pengakuan yang lebih memabukkan daripada pengakuan dari orang-orang yang dulu mengetahui masa lalu kita yang miskin atau biasa-biasa saja.

Pertarungan Nasib

Dampak sosiologis dari perubahan arena ini sangatlah nyata. Terjadilah seleksi alam di dalam grup. Mereka yang merasa kalah dalam pertarungan nasib, yang kariernya stagnan, yang secara ekonomi kesulitan, atau yang kehidupan rumah tangganya berantakan, akan perlahan mundur. Mereka akan menjadi silent reader (pembaca pasif), hingga akhirnya diam-diam menekan tombol “Mute” selama satu tahun penuh.

Grup alumni bukan lagi tempat yang aman, melainkan cermin raksasa yang dengan kejam memantulkan kegagalan mereka saat disandingkan dengan kesuksesan teman-teman sebayanya. Kekerasan simbolik (symbolic violence) terjadi melalui notifikasi-notifikasi kesuksesan orang lain yang masuk ke ponsel mereka setiap hari.

Hingga akhirnya, siklus hidup grup WhatsApp alumni akan mencapai fase ekuilibriumnya (keseimbangan akhir), yakni “kuburan digital” yang sunyi. Grup ini hanya akan mendadak ramai pada peristiwa-peristiwa tertentu, misalnya saat ada teman yang akhir menikah, saat hari raya keagamaan (dengan kiriman template mohon maaf lahir batin yang di-forward berkali-kali), atau saat ada teman teman seangkatan yang orang tuanya berpulang.

Apakah itu berarti grup WhatsApp Alumni adalah sesuatu yang buruk dan perlu ditinggalkan? Tentu tidak. Realitas sosiologis mengajarkan kita bahwa memiliki masa lalu yang sama di ruang kelas dua puluh tahun yang lalu, tidak menjamin kita akan memiliki frekuensi, kelas sosial, dan pandangan politik yang sama hari ini. Waktu telah mengubah si ketua OSIS yang karismatik menjadi birokrat yang kaku, dan si pemalu yang duduk di bangku belakang menjadi pengusaha sukses yang eksentrik.

Jadi, nikmatilah grup alumni Anda sebagai apa adanya. Tertawalah saat ada yang mengunggah foto masa lalu Anda, berikan ucapan selamat atas kesuksesan kawan Anda, dan tidak perlu merasa rendah diri jika nasib belum membawa Anda ke puncak piramida.

Dan, jika pada suatu hari obrolan di grup itu mulai terasa membebani mental, ingatlah bahwa menekan tombol “Bisukan Notifikasi” (Mute Notifications) bukanlah sebuah pengkhianatan terhadap pertemanan. Melainkan itu adalah cara paling beradab untuk memeluk masa lalu, tanpa harus melukai masa kini.

1785905733_body_EqvwWDFkWDYb.webp

Seri artikel sosio-kultural Anatomi Grup WhatsApp

Disclaimer

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan redaksi SerambiPikir.
Baca selengkapnya

Najamuddin Khairur Rijal

Pembelajar isu-isu politik global dan isu-isu sosial kontempoer

Ikuti Penulis
Komentar 0
Silakan Masuk terlebih dahulu untuk mengirim komentar.
Artikel Terkait
Siaran Peristiwa — Kirim informasi via WhatsApp SerambiPikir
Ketikkan keyword yang ingin Anda telusuri.